Bagi atlet yang menargetkan lari Marathon dan Jarak Jauh, fokus pelatihan seringkali tertuju pada kaki dan sistem kardiovaskular. Namun, elemen yang paling sering menentukan perbedaan antara finis kuat dan ambruk di kilometer akhir adalah Latihan Kekuatan Inti (Core). Kekuatan Inti yang solid bertindak sebagai Pondasi Stamina, memastikan Postur Tetap Tegak dan efisien, terutama saat tubuh mulai mengalami kelelahan ekstrem di KM 30 lomba.
Otot inti—yang meliputi perut, punggung bawah, pinggul, dan panggul—memiliki peran vital yang jauh lebih besar daripada sekadar estetika. Saat berlari, inti tubuh bertanggung jawab untuk mentransfer energi dari tubuh bagian atas ke tubuh bagian bawah dan sebaliknya. Inti yang kuat menjaga pelvis tetap stabil, mencegah pinggul bergoyang dari sisi ke sisi (rotational instability), yang mana gerakan tidak perlu ini akan membuang-buang energi berharga. Selain itu, inti yang kokoh memastikan ekstremitas dapat bergerak secara simetris dan efisien, mengurangi risiko cedera lutut dan pergelangan kaki.
Tanpa Kekuatan Inti yang memadai, saat pelari memasuki fase kritis maraton di sekitar KM 30, kelelahan mulai memengaruhi postur. Punggung bagian bawah akan mulai melengkung, bahu menjadi membungkuk, dan langkah kaki menjadi tidak terkoordinasi. Postur yang ambruk ini secara drastis meningkatkan pumping losses dan memperberat kerja jantung, yang pada akhirnya menyebabkan Kehabisan Stamina secara prematur. Oleh karena itu, core yang terlatih adalah asuransi terbaik pelari untuk mempertahankan mekanika lari yang efisien hingga garis finis.
Beberapa Latihan Kekuatan Inti yang paling efektif untuk pelari meliputi Plank (untuk stabilitas seluruh core), Bird-Dog (untuk koordinasi dan stabilitas punggung bawah), dan Single-Leg Bridge (untuk kekuatan gluteus dan stabilitas pinggul). Para ahli merekomendasikan sesi core minimal 20 menit, tiga kali seminggu, dilakukan secara terpisah dari sesi lari intensif. Menurut laporan dari Pusat Penelitian Kebugaran Atlet pada hari Minggu, 9 November 2025, atlet yang rutin melakukan Latihan Kekuatan Inti menunjukkan rata-rata penurunan rate of perceived exertion (RPE) sebesar 1,5 poin pada KM 30 maraton dibandingkan mereka yang tidak fokus pada core, membuktikan bahwa inti yang kuat adalah kunci untuk menjaga Postur Tetap Tegak saat energi mulai terkuras.