Berlatih di daerah dengan karakteristik lingkungan yang menantang menuntut para atlet untuk memiliki sistem pernapasan dan metabolisme yang jauh di atas rata-rata. Di Sulawesi Tengah, khususnya di bawah naungan organisasi olahraga di Kota Palu, fokus pada efisiensi oksigen telah menjadi pilar utama dalam mencetak atlet yang tangguh. Kemampuan tubuh untuk menghirup, menyalurkan, dan menggunakan oksigen secara maksimal selama aktivitas fisik yang berat adalah penentu utama daya tahan seorang atlet, terutama saat mereka harus bertanding di bawah tekanan cuaca yang panas dan lembap.
Metode utama yang diterapkan untuk mencapai level kebugaran ini adalah latihan intensitas tinggi. Melalui latihan yang memacu detak jantung hingga mendekati batas maksimal dalam durasi pendek yang berulang, tubuh atlet dipaksa untuk beradaptasi dengan kondisi kekurangan oksigen (hipoksia parsial). Adaptasi ini sangat penting karena saat bertanding, sering kali otot harus bekerja dalam kondisi anaerobik. Dengan melatih tubuh untuk tetap berfungsi efisien saat kadar oksigen menurun, para atlet KONI Palu mendapatkan keunggulan kompetitif berupa pemulihan yang lebih cepat di antara set pertandingan atau babak permainan.
Sains di balik efisiensi ini melibatkan peningkatan kepadatan mitokondria di dalam sel otot dan perbaikan kapasitas angkut oksigen oleh sel darah merah. Tim medis di Palu secara rutin memantau nilai $VO_{2}$ Max para atlet untuk melihat sejauh mana perkembangan sistem kardiovaskular mereka. Namun, efisiensi bukan hanya soal kapasitas paru-paru, melainkan juga soal bagaimana otot menggunakan oksigen tersebut secara hemat. Melalui latihan teknik yang efisien, gerakan yang tidak perlu dihilangkan sehingga setiap molekul oksigen yang dibakar benar-benar diubah menjadi gerak maju yang produktif, bukan terbuang sebagai panas tubuh yang berlebihan.
Selain latihan di lapangan, edukasi mengenai teknik pernapasan dalam (diaphragmatic breathing) juga diberikan sebagai bagian dari program pemulihan. Atlet diajarkan cara mengoptimalkan setiap tarikan napas agar pertukaran gas di dalam alveoli berlangsung sempurna. Hal ini sangat krusial terutama bagi atlet cabang olahraga bela diri atau lari jarak jauh yang memerlukan ketenangan di tengah kelelahan fisik yang hebat. Di bawah bimbingan KONI Palu, pendekatan ini mulai menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya konsistensi performa atlet di berbagai kejuaraan wilayah maupun nasional, di mana mereka mampu menjaga intensitas serangan atau kecepatan hingga menit terakhir.